Jumat, 09 November 2012

Everything At Once


Oke, mulai sekarang gue mau coba bikin Song of The Week, yaitu post tentang lagu terbaru yang lagi gue suka dan mp3nya gue puter-puter terus ampe jebol.

Untuk minggu ini, gue lagi suka banget sama lagunya Lenka – Everything At Once yang mungkin udah banyak yang tau kalo lagu ini dijadiin theme song-nya Windows 8.

Selain emang suara Lenka yang imut dan renyah, crispy, dan pengen gue gigit aja rasanya (tiba-tiba jadi gore), lagu Everything At Once ini emang manis banget, semanis yang nyanyi :3
Ha-ha-ha.

Pokoknya lagunya enak banget didengerin apalagi kalo lagi dingin-dingin dan di luar sana rintik-rintik hujan membasahi jendela rumah. Rumah siapa? Ya, rumah lo lah, masa rumah tetangga yang banyak jemuran BH sama CD-nya!

Atau kalo lo lagi di dalam busway, malem-malem, suasananya mendung, ini lagu pas banget buat jadi temen seperjalanan untuk membunuh waktu.

Artinya sendiri, ya cukup simple, kayak anak kecil yang pingin es krim tapi dia pengen es krim paket lengkap. Ada yang rasa cokelat, vanilla, blueberry, moccachino, coffee, grape, strawberry, sampe blackberry. Pingin coba semua rasa jadi satu. Pingin kebahagiannya lengkap. Pingin hidupnya sempurna dan penuh warna. Mencoba semua kemungkinan yang bisa dijalani hidup. That’s why It’s called Everything At Once.


Langsung aja ini liriknya:

As sly as a fox, as strong as an ox
 As fast as a hare, as brave as a bear
 As free as a bird, as neat as a word
 As quiet as a mouse, as big as a house

 All I wanna be, all I wanna be, oh
 All I wanna be is everything

 As mean as a wolf, as sharp as a tooth
 As deep as a bite, as dark as the night
 As sweet as a song, as right as a wrong
 As long as a road, as ugly as a toad

 As pretty as a picture hanging from a fixture
 Strong like a family, strong as I wanna be
 Bright as day, as light as play
 As hard as nails, as grand as a whale

 All I wanna be oh, all I wanna be, oh
 All I wanna be is everything
 Everything at once
 Everything at once, oh
 Everything at once

 As warm as the sun, as silly as fun
 As cool as a tree, as scary as the sea
 As hot as fire, cold as ice
 Sweet as sugar and everything nice

 As old as time, as straight as a line
 As royal as a queen, as buzzed as a bee
 Stealth as a tiger, smooth as a glider
 Pure as a melody, pure as I wanna be

 All I wanna be oh, all I wanna be, oh
 All I wanna be is everything
 Everything at once


Liriknya simple, tapi eye-catchy (eh, ear-catchy maksudnya) dan segeeerrrr buangeett.
Lenka emang penyanyi cewek yang punya everything at once, deh. Ha-ha-ha.
Untuk mp3nya, cari aja di mbah Gugel, ya.
Saya cabut dulu, mau dengerin lagunya lagi.
*mundur pelan-pelan nyari headset*
Ciao!


Kamis, 08 November 2012

Antologi Cerpen Cinta Bernilai Dakwah Sudah Bisa Dipesan!


Mas mau beli subang? Dapat duit dari mana?” Sumarni menatap sang suami dengan pandangan tak percaya.
“Besok gajiku naik, Mar. Dan aku akan memenuhi janji yang pernah terucap saat kau mau menikah denganku sembilan tahun lalu. Kau masih ingat?”
Sumarni meraba pipinya yang kemerahan. “Memberikan aku sebuah subang?”
“Iya,” ucap Suparman mantap.

Ya, begitulah Suparman. Satu hal yang menjadi angannya—sebagaimana harapan para suami lain—membahagiakan istri. Kebahagiaan itu baginya, tersimpan pada sebuah gebyar indah dan mewah bernama perhiasan. Bukankah perhiasan memang identik dengan wanita? Hanya saja, jika para konglomerat itu sibuk melacak bebatuan gemerlapan langka bernilai komersial selangit, maka impian Suparman hanya satu: subang untuk Sumarni.

            Mampukah Suparman memenuhi janjinya itu?

            Ataukah rintangan demi rintangan yang menghadangnya akan membuat semangatnya runtuh?

         Temukan kelanjutan kisah mereka dalam cerpen “Untuk Sumarni dari Suparman” yang tertuang dalam antologi cerpen bernilai dakwah “Untuk Sumarni dari Suparman” bersama 24 cerpen menarik lainnya, yang akan membuat kamu mengerti makna cinta yang sesungguhnya.

        Secara keseluruhan inilah judul-judul cerpen dan nama penulis yang dimuat dalam antologi FAM Indonesia ini:

1. Di Bawah Kaki Bapak (Yori Tanaka)
2. Pesan Cinta dari Korban Penggusuran (Yudha Hari Wardhana)
3. Kartini Masa Kini (Hannan Izzaturrofa)
4. Untuk Sumarni dari Suparman (M.R. Andrianus)
5. Akhir Cinta Gadis Novel (Marfuatus Zulvia Wilujeng)
6. Keputusan Seiring Waktu (Dwi Pratita Utami)
7. Seperti Bukan Aku (Rahmat Sahri Ramadani)
8. Selezat Cokelat Cappucino (Amanda Iza Raesita)
9. Manusia di Antara Kucing (Tomy M Saragih)
10. Garis yang Tak Sempurna untuk Sebuah Nama (Sri Yunianita)
11. Dilema Ramadhan (Desy Rohmawati)
12. Doa untuk Kekasih Suamiku (Mu’awanah)
13. Tanah Ini Dijual Seribu Meter Persegi (Siti Haryani Chasana)
14. Ekspedisi Cinta (Mawar Rovita Sari)
15. Balasan Indah Tiga Pucuk Surat (Anis Swidiastuti)
16. Saksi Salju Alpen (Rrahmania Zzahra)
17. Bercermin pada Lembaran Kertas (Tyas Widianingsih)
18. Cinta si Abua Amat (Firdaus)
19. Inilah Jalan Dakwahku (Adli Zuliansyah Putra)
20. Kamar untuk Ayah dan Bunda (Switz Rahayu)
21. Cinta Gila (Nenny Makmun)
22. Jilbab Biru Catherine (Rahimah Ib)
23. Aku Benci Adikku (Sherly Adra Pratiwi)
24. Air Mata Mbak Alia (Riezky Vieramadhani Poetry)
25. Buku Ini Jadi Saksinya (Darmawati)


Buku ini baru akan launching Maret 2013.
But Now Available for Pre-Launching Promotion!

Info pemesanan hubungi:
HP: 08999222802 atau eMail: callmeryanzoo@gmail.com
atau 081259821511 (Mba Aliya)


Salam Karya!
~M. R. A~

Rabu, 07 November 2012

Jengah, Impi, Laut


Tulisan ini dimulai dengan not responding di Microsoft Word. Mulai mengutuki diri sendiri, kenapa sih makin lama makin lemot aja nih laptop?!


Apakah laptop ini menyesuaikan si empunya? Well, mungkin aja gue emang bisa mencetuskan itu. Pasalnya, sampe sekarang, mungkin gue terlalu lemot akibat kegiatan tidak jelas berkepanjangan gara-gara nunggu penempatan. Beruntung, gue masih bisa menganggap ini sebagai liburan sebelum nantinya benar-benar terjun bekerja. Gue gak akan tahu apakah nanti saat gue bekerja gue bisa enak-enakan seperti ini? Bisa main bareng temen-temen gue? Gue bisa menulis? Apa gue bisa tidur dengan nyaman dan khidmat di siang bolong—apalagi kalo plus hujan—? Tidur itu kegiatan yang sangat langka apabila udah kerja nanti, gue rasa.


Tapi untuk saat ini, gue mulai jengah. Udah terlalu lama gue tidur. Gue takut tidur yang berkepanjangan ini membuat otak gue beku. Jadi, gue harus terus mengasah otak ini. Tunggu … tunggu, gue bukan lagi ngomongin pelajaran atau psikotest buat penempatan. Maksud gue dengan asah otak di sini adalah menulis. Gue semakin suka dengan kegiatan ini, apalagi mulai sekarang, tulisan gue udah bukan jadi konsumsi pribadi lagi.  Bukan cuma jadi konsumsi orang-orang yang deket sama gue. Alhamdulillah, tulisan gue makin banyak yang mengapresiasi, dan dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya ini, gue harus terus berlatih dan berlatih. Belajar. Belajar nulis. Oke, kedengerannya memang sangat Sekolah Dasar, tapi memang saya merasa, selama ini saya belum banyak belajar ‘menulis’.


Menulis itu memang kegiatan paling sesuai dengan otak saya yang liar. Tapi, gue juga gak bisa menampik kalau di dunia ini, kita gak bisa hanya mengandalkan hidup dari menulis. Sama seperti cerita yang tertuang dalam “Perahu Kertas”, di mana tokoh utamanya, Kugy dan Keenan harus mati-matian menjadi diri mereka sendiri. Diri mereka yang bebas. Meraih mimpi mereka yang terlihat mustahil.


Ada satu quote yang gue suka banget dari novel satu itu, yang baru hari ini rampung gue baca (dan mungkin akan gue resensi di post terpisah). Cerita cintanya emang klasik, tapi karakter utama novel ini gue suka banget, dan tentang pencarian jati diri mereka sangat realistis banget. Gue pun merasakan hal yang sama seperti mereka.
Oh, ya, quote yang paling gue suka dari “Perahu Kertas” ini:
“Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.”


Banyak orang di dunia ini punya mimpi, tapi kebanyakan, mimpi-mimpi itu terjebak oleh realita yang keras. Akhirnya, banyak dari pemimpi-pemimpi itu mengubur mimpinya dalam-dalam. Dengan quote itu, gue semakin yakin bahwa jalan yang selama ini gue tempuh nggak sepenuhnya salah. Gue harus menempuh jalan-jalan lain dulu, sebelum pada akhirnya menginjakkan kaki ke jalan yang akan membawa gue ke impian gue.
Gue pingin banget ke luar sana.

Makanya gue suka laut.

Laut itu sarana yang akan menghubungkan gue dengan dunia luar.

Jadi, gue seneng banget masuk ke jalan gue yang sekarang, karena ada kemungkinan gue akan ditempatkan di suatu tempat yang memungkinkan gue bisa ngeliat laut setiap hari.

Laut itu juga bukan sang Penghubung ke dunia luar ‘nyata’, tapi juga ke dunia luar ‘imajinasi’. Jadi, laut itu sekaligus menghubungkan gue dengan dunia nyata yang jadi impian gue dan dunia mimpi gue. Dua impi. Katanya sama, tapi mengandung artian berbeda. Yang satu konotatif, yang satunya denotatif. Intinya, laut itu penuh inspirasi. Ngeliat laut itu membuat hati tenang. Membuat kita tahu akan keberadaan sesuatu yang ada di luar sana. Bahwa dunia itu luas. Dan penuh warna.


Karena bintang gue pisces, yang simbolnya adalah ikan, kayaknya emang pantas kalau gue berharap nanti gue ditempatkan di kantor yang dekat dengan laut. Saya gak minta kantor yang tempatnya sangat enak dan nyaman, saya gak minta kantor yang dapet bonus sana-sini setiap hari, saya gak minta kantor yang banyak kegiatannya. Cuma satu, kantor yang dekat laut. Boleh, ya, Neptunus?

***

Who Reads