Tampilkan postingan dengan label Sebuah Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2013

Bermain Petasan: Ritual Ramadhan yang Bisa Membahayakan




Petasan atau mercon. Kata yang sudah tidak asing bagi kita. Dua kata ini merujuk  pada sebuah bahan ledakan yang dimasukkan dalam wadah yang terdiri dari lapisan-lapisan kertas.

Kalau kita lihat dari sejarahnya, proses penemuan petasan ini sangat menarik, karena berasal dari ketidaksengajaan. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak di negeri Cina secara tak sengaja mencampur 3 bahan bubuk hitam (black powder) yaitu: belerang (sulfur), garam peter atau kalium nitrat, dan sebuah arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu bersifat mudah terbakar.



Memang ledakan petasan tidak se-explosive bom, namun tetap saja berbahaya. Sudah lebih dari satu dasawarsa, petasan (yang berbahan bakar mesiu dan menimbulkan suara ledakan) dilarang oleh pemerintah di Indonesia, dan digolongkan sebagai low explosive disaster. Ironisnya, bermain petasan atau mercon ini seperti sudah menjadi ritual bulan Ramadhan bagi anak-anak Indonesia.


Well, saya tidak menampik kalau saya juga pernah bermain petasan sewaktu kecil. Tujuannya? Hanya sekedar fun atau hiburan. Ya, dulu, saya suka bermain perang-perangan menggunakan petasan. Memang, permainan ini menjadi sangat seru, kalau kita bermain dalam 2 tim atau lebih.  Tiap-tiap tim bisa menyulut petasannya dan menyerang tim lain (tim lawan) dengan bola gumpalan kain sambil berlarian dan tertawa ceria.



Dua orang anak ini berkata, "Bang, jangan dilaporin polisi, ya," ketika saya mengambil gambar mereka



Anak-anak yang sedang bermain petasan di dekat masjid




Sampai saat ini, saya masih sering melihat anak-anak kecil di daerah rumah saya--di kawasan Palmerah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat—bermain petasan. Tapi anak-anak ini seringkali bermain di tengah jalan dekat masjid, bukannya di tempat yang sepi seperti di lapangan. Menurut salah satu di antara mereka, bermain petasan sangat menyenangkan karena dilakukan bersama-sama. Anak-anak tersebut biasanya melakukan permainan ini setelah salat tarawih. Namun banyak juga yang melakukannya ketika orang-orang sedang melaksanakan tarawih di masjid. Tentunya hal ini sangat mengganggu. 



Suasana menjelang tarawih di Masjid Jami Al Anwar, Palmerah, Jakarta Barat




Selain mengganggu, bermain petasan juga bisa sangat membahayakan.

Dikutip dari teraspos.com, Harju Pambudi, seorang pelajar SMK 3 Yogyakarta tewas akibat ledakan petasan di Jalan Seyegan-Mlati di Dusun Mriyan, Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman. Saat itu, korban baru pulang sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Begitu sampai di lokasi kejadian, korban tiba-tiba dilempar benda yang diduga petasan hingga mengakibatkan luka parah pada bagian tubuhnya. Naas, korban akhirnya meninggal ketika menjalani perawatan di rumah sakit.

Sungguh tragis, bukan?


Mencegah kejadian-kejadian tragis seperti ini, pihak kepolisian marak melakukan penyitaan petasan dan barang-barang larangan lainnya di bulan Ramadhan tahun ini. Salah satunya adalah Kepolisian Resor Kota Bandarlampung. Mereka berhasil menyita 32.151 batang petasan dalam sebuah operasi yang diberi nama “Operasi Penyakit Masyarakat.” (Sumber: teraspos.com ) Tujuan dari operasi yang berlangsung dari 11 sampai 21 Juli 2013 tersebut adalah menjamin kekhusyukan umat muslim dalam beribadah di bulan suci Ramadhan.

Menurut saya, operasi tersebut memang harus dilakukan, mengingat terkadang pemerintah hanya tegas di sisi konsumen tapi masih sering “ramah” di pihak produsen. Selain itu, pemerintah harusnya sadar, meskipun dilarang, masih banyak anak-anak yang bisa membeli petasan secara leluasa. Jika sudah begitu, para orangtua juga seharusnya berperan dalam melarang anak-anaknya. Apabila mereka tetap ingin bermain, lakukan sosialisasi tentang tips dan trik bermain petasan agar tidak menimbulkan bahaya dan mengganggu masyarakat. Misalnya:


  • Harus tahu jenis petasan yang dimainkan. Bila memainkan petasan (apalagi yang bertipe roket--mercon sesdor, misalnya), bermainlah di tempat yang jauh dari pemukiman karena arah terbang petasan tidak bisa dikendalikan.
  • Hindari bermain dekat tempat ibadah atau tempat umum lainnya.
  • Bila belum mahir bermain petasan, gunakan  bambu atau tongkat dengan bara di ujungnya untuk menyulut petasan.
  • Jangan menyimpan petasan di tempat yang berisiko terkena api, atau di dekat bahan-bahan mudah terbakar lainnya.

Jadi, meskipun petasan atau mercon seakan sudah menjadi ritual bulan puasa yang sulit untuk dapat dipisahkan, kita juga harus mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak kecil di sekitar rumah kita, untuk berhati-hati dalam bermain petasan. Dengan begitu, kita semua bisa beribadah dengan tenang di bulan suci ini, dan InshaAllah, Ramadhan 1434 H ini bisa membawa berkah bagi kita semua. Aamiin. (*)



[M.R.A]


Senin, 17 Desember 2012

Back to December



Hello December!

This is the only phrase that I can say to the world when you come.

Last December there were a lot of things happened in my life.

I know the Taylor Swift's song: Back to December, maybe from earlier 2011, but when I first listened to the song, there's nothing special in my heart. Oke, she is (Taylor) very multi-talented and [I really like you Taylor!] But I didnt like the song because it's so sad. And I never hear that song again. After now, when December come once again in my life and I felt the "difference" in this song. That lyrics make me remember something. 

Something that happened in last December, in 2011. First time I left my previous university and went to be a part of Indonesian State College of Accountancy. I realized that's the first time I "left" you. And after that, all that happened between us really different. I still remembered when you said "If I Im goin to be accepted in the other university, I wouldnt go."
And I said, "Why?"
"Because I have found that I lookin for. And I won't leave it." You said.
I dont know yet what you meant but I just wanna say sorry but I can't be as good as you. I couldn't put it up with you.
So, this December, when I once again listen to this song, I remembered you.
I know you'll never ever read this, I just wanna put all I felt into this electronical-paper.
And this December, I dont know why but I feel lonely (without you). Is it right?




I'm so glad you made time to see me
How's life? Tell me, how's your family?
I haven't seen them in a while
 
You've been good, busier than ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up, and I know why
 
Because the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind
You gave me roses, and I left them there to die
 
So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December all the time
 
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time
 
These days, I haven't been sleeping
Staying up, playing back myself leaving
When your birthday passed, and I didn't call
 
Then I think about summer, all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side
And realized I loved you in the fall
 
And then the cold came, the dark days
When fear crept into my mind
You gave me all your love, and all I gave you was goodbye
 
So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December all the time
 
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time
 
I miss your tan skin, your sweet smile
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night
The first time you ever saw me cry
 
Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming
But if we loved again, I swear I'd love you right
 
I'd go back in time and change it, but I can't
So if the chain is on your door, I understand
 
This is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December
 
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time, all the time


Oh my God! I gotta go, move on, and get a life! 

Rabu, 07 November 2012

Jengah, Impi, Laut


Tulisan ini dimulai dengan not responding di Microsoft Word. Mulai mengutuki diri sendiri, kenapa sih makin lama makin lemot aja nih laptop?!


Apakah laptop ini menyesuaikan si empunya? Well, mungkin aja gue emang bisa mencetuskan itu. Pasalnya, sampe sekarang, mungkin gue terlalu lemot akibat kegiatan tidak jelas berkepanjangan gara-gara nunggu penempatan. Beruntung, gue masih bisa menganggap ini sebagai liburan sebelum nantinya benar-benar terjun bekerja. Gue gak akan tahu apakah nanti saat gue bekerja gue bisa enak-enakan seperti ini? Bisa main bareng temen-temen gue? Gue bisa menulis? Apa gue bisa tidur dengan nyaman dan khidmat di siang bolong—apalagi kalo plus hujan—? Tidur itu kegiatan yang sangat langka apabila udah kerja nanti, gue rasa.


Tapi untuk saat ini, gue mulai jengah. Udah terlalu lama gue tidur. Gue takut tidur yang berkepanjangan ini membuat otak gue beku. Jadi, gue harus terus mengasah otak ini. Tunggu … tunggu, gue bukan lagi ngomongin pelajaran atau psikotest buat penempatan. Maksud gue dengan asah otak di sini adalah menulis. Gue semakin suka dengan kegiatan ini, apalagi mulai sekarang, tulisan gue udah bukan jadi konsumsi pribadi lagi.  Bukan cuma jadi konsumsi orang-orang yang deket sama gue. Alhamdulillah, tulisan gue makin banyak yang mengapresiasi, dan dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya ini, gue harus terus berlatih dan berlatih. Belajar. Belajar nulis. Oke, kedengerannya memang sangat Sekolah Dasar, tapi memang saya merasa, selama ini saya belum banyak belajar ‘menulis’.


Menulis itu memang kegiatan paling sesuai dengan otak saya yang liar. Tapi, gue juga gak bisa menampik kalau di dunia ini, kita gak bisa hanya mengandalkan hidup dari menulis. Sama seperti cerita yang tertuang dalam “Perahu Kertas”, di mana tokoh utamanya, Kugy dan Keenan harus mati-matian menjadi diri mereka sendiri. Diri mereka yang bebas. Meraih mimpi mereka yang terlihat mustahil.


Ada satu quote yang gue suka banget dari novel satu itu, yang baru hari ini rampung gue baca (dan mungkin akan gue resensi di post terpisah). Cerita cintanya emang klasik, tapi karakter utama novel ini gue suka banget, dan tentang pencarian jati diri mereka sangat realistis banget. Gue pun merasakan hal yang sama seperti mereka.
Oh, ya, quote yang paling gue suka dari “Perahu Kertas” ini:
“Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.”


Banyak orang di dunia ini punya mimpi, tapi kebanyakan, mimpi-mimpi itu terjebak oleh realita yang keras. Akhirnya, banyak dari pemimpi-pemimpi itu mengubur mimpinya dalam-dalam. Dengan quote itu, gue semakin yakin bahwa jalan yang selama ini gue tempuh nggak sepenuhnya salah. Gue harus menempuh jalan-jalan lain dulu, sebelum pada akhirnya menginjakkan kaki ke jalan yang akan membawa gue ke impian gue.
Gue pingin banget ke luar sana.

Makanya gue suka laut.

Laut itu sarana yang akan menghubungkan gue dengan dunia luar.

Jadi, gue seneng banget masuk ke jalan gue yang sekarang, karena ada kemungkinan gue akan ditempatkan di suatu tempat yang memungkinkan gue bisa ngeliat laut setiap hari.

Laut itu juga bukan sang Penghubung ke dunia luar ‘nyata’, tapi juga ke dunia luar ‘imajinasi’. Jadi, laut itu sekaligus menghubungkan gue dengan dunia nyata yang jadi impian gue dan dunia mimpi gue. Dua impi. Katanya sama, tapi mengandung artian berbeda. Yang satu konotatif, yang satunya denotatif. Intinya, laut itu penuh inspirasi. Ngeliat laut itu membuat hati tenang. Membuat kita tahu akan keberadaan sesuatu yang ada di luar sana. Bahwa dunia itu luas. Dan penuh warna.


Karena bintang gue pisces, yang simbolnya adalah ikan, kayaknya emang pantas kalau gue berharap nanti gue ditempatkan di kantor yang dekat dengan laut. Saya gak minta kantor yang tempatnya sangat enak dan nyaman, saya gak minta kantor yang dapet bonus sana-sini setiap hari, saya gak minta kantor yang banyak kegiatannya. Cuma satu, kantor yang dekat laut. Boleh, ya, Neptunus?

***

Rabu, 31 Oktober 2012

Menulis Itu Menghasilkan

Aku duduk diam di pinggir kolam.
Tanganku menggenggam sebatang pensil baru yang belum dipakai sama sekali.
Sama seperti buku tulis yang ada di hadapanku kini.
Pemuda itu, kawanku, menghampiriku dan bertanya, "Apa enaknya menulis?"
Aku menjawabnya dengan senyuman.
"Menulis adalah pekerjaan paling tidak menghasilkan di dunia," ucapnya.
Itu bukan pertanyaan lagi, tapi pernyataan.
Aku bahagia mendengarnya, dan untuk pertama kalinya menggunakan pensil baruku untuk menulis.
Lama juga aku menulis, sampai kawanku terkantuk-kantuk.
Setelah selesai, aku memberikan buku tulis itu padanya--yang masih terlihat mengantuk, kemudian pergi dari pinggir kolam.
Sebelum benar-benar jauh, aku dapat melihat pemuda itu, kawanku, membacanya. Tulisanku.
"Bila yang kau maksud adalah materi dan popularitas, mungkin kau seharusnya menengok Joanne Kathleen Rowling, dan masih banyak nama lain.
Dengan menulis, aku bisa menghasilkan karyaku sendiri.
Dengan menulis, aku bisa menghasilkan duniaku sendiri.
Dengan menulis, aku bisa menghasilkan tokohku sendiri.
Dengan menulis, aku bisa menghasilkan konflikku sendiri.
Dengan menulis, aku bisa menghasilkan waktu dan tempatku sendiri.
Menulis membuatku berpikir bahwa aku bisa menciptakan apapun yang tidak bisa diciptakan di dunia nyata.
Menulis membuatku sadar bahwa masih ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Imajinasi salah satunya.
Kau tak bisa membeli imajinasiku.
Imajinasiku ini liar. Mampu berdiri sendiri.
Imajinasi ini bisa membawaku ke tempat-tempat yang sama sekali tak terpikirkan olehmu.
Imajinasi ini membuatku bisa membeli barang-barang yang tak terjamah olehmu.
Imajinasiku lebih kaya dari apapun yang ada di dunia ini.
Dan lebih bebas.
Lebih bebas dari burung-burung yang menguasai awan.
Lebih bebas dari ikan-ikan yang menguasai lautan.
Apa yang salah dengan menulis?
Menulis dapat membuatku selalu dikenang.
Tulisanku akan selalu ada--menghasilkan keabadian, meskipun aku telah tiada.
Yang lebih terpenting bagiku, dengan menulis, aku tak pernah miskin. Bahkan merasa pun tidak.
Aku akan selalu berbagi.
Tak terkecuali kepada orang sepertimu.
Sejelek dan seringkas apapun tulisanku, setidaknya ada sesuatu yang kuberikan pada orang lain.
Lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?
Pun pada detik ini, aku telah berbagi padamu, kawan.
Melalui tulisanku ini dan... oh, iya, buku tulisku juga. Anggap saja bonus.
Semoga dengan ini kau tak lagi terkantuk-kantuk di pinggir kolam.
Jadi, apakah kau masih berpikir bahwa menulis adalah pekerjaan paling tidak menghasilkan di dunia?"


Jakarta, 31 Oktober 2012.
Ketika langit membuat seisi kota tertidur.

Sabtu, 29 September 2012

Orang Tua Terbaik di Dunia

Saat gw lagi browsing, entah kenapa otak gw yg kayak mercon brilian ini mendapat ide untuk memposting cerita2 motivasi. Tulisan ini buat gue terenyuh dan terharu akan semua yang telah orangtua gue lakuin buat gue. Cekidot.

Awalnya aku iri padamu kawan. Aku iri pada semua anak di dunia yang memiki orang tua yang menyangi anaknya dan selalu ada waktu untuk keluarganya. Bisa mengobrol dangan ayah itu pasti asyik. Atau bisa curhat pada ibu juga pasti lebih melegakan daripada curhat kepada teman.

Tetapi tidak dengan orangtuaku. Ya, orangtuaku. Mereka adalah manusia super sibuk. Ibuku setiap pagi harus pergi mengajar anak anak lain sepertiku, dan pulang di siang hari. Dan malamnya ia pakai untuk mengerjakan tugas tugasnya sebagai guru, memeriksa tugas dan ulangan mereka. Dan sisa waktu luangnya ia gunakan untuk meregangkan otot ototnya.

Tidakkah ia ingat denganku yang masih remaja dan membutuhkan perhatian lebih? Aku ini remaja labil kawan, sedikit di sentuh langsung terjatuh. Aku butuh ibu yang bisa mendengarkan semua cerita dan keluh kesahku. Dan yang lebih menyakitkan bagiku adalah ketika aku melihat ibuku sedang mengajar anak anak sepertiku, ia terlihat begitu perhatian kepada anak anak itu. Tetapi tidak denganku. Ya , tidak denganku.

Terlebih lagi ayahku, ia lebih sibuk dari ibuku. Ia terkadang pergi di pagi buta dan pulang malam hari. Atau terkadang pulang sore hari atau siang hari, atau … ah sudahlah tak akan kutuliskan jadwal keseharian ayahku karena aku pun tidak mengerti dengan jadwal ayahku yang tidak tentu itu. Mengingat pekerjaanya sebagai salah satu orang yang berwenang di perusahaannya dan tidak memiliki waktu yang mengikat, dan mengingat perannya yang cukup penting di masyarakat membuatnya harus selalu menyediakan waktu untuk masyarakatnya. Lalu sisa waktu luangnya di rumah ia gunakan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Maka di rumah ia hanya duduk di depan laptop hitamnya atau tidur untuk meregangkan otot ototnya. Ketika aku mencoba mengobrol dengannya, iya hanya menjawab “hmm” lalu beberapa saat diam, lalu berkata “tadi bilang apa?’ lalu sibuk mengetik dan manatap layar kaca laptopnya.

Kawan, sakali lagi kukatakan padamu, aku ini remaja labil. Aku butuh seorang lelaki yang bisa membuat aku tertawa dan melupakan tumpukkan tugas dan pr dari sekolahku untuk beberapa saat.

Ya, aku iri padamu kawan. Sampai suatu saat ketika sebentar lagi umurku akan merubah statusku. Dari remaja menjadi dewasa. Sesuai dengan Undang Undang Republik Indonesis. Kira kira berapa umurku saat itu? Yap. 16 tahun kawan.

Saat itu, saat aku berusia 16 tahun. aku bicara dengan ayah dan ibuku. Kali ini kami saling menatap wajah, aku mengobrol banyak hal pada mereka. Aku tanyakan semua pertanyaan yang selalu kupendam selama ini. Rasanya nyaman kawan. Nyaman sekali rasanya bisa mengobrol dengan ayah dan ibu, tetapi, walaupun aku senang, saat itu aku melihat wajah ayah dan ibuku dengan seksama. Kau tau kawan? Mata mereka kini tidak lagi cerah seperti dulu, matanya menyiratkan kelelahan, kulit mereka tidak lagi segar, kini mulai tumbuh keriput keriput kecil di sisi mata kanan dan kirinya.

Ya Allah, saat itu aku berpikir… apakah wajah kelelahan itu untukku? Ya kawan, semuanya untukku. Setiap hari mereka berjuang untukku, berjuang agar aku bisa sekolah dan menabung untuk uang kuliahku. Dan karena aku tidak menyadari semua itu, aku biarkan ayahku mengambil rapor sekolahku dengan nilaiku yang tidak memuaskan. Tapi apa katanya kawan? “tak apa apa nak, masih ada semester depan, belajarlah yang rajin ya” ya, itulah yang ia katakan. Ia selalu memotivasiku.

Maka pantaskah aku berharap untuk dibuat tertawa oleh mereka? Pantaskah aku jejali hari hari melelahkan mereka dengan cerita ceritaku yang membosankan? Seharusnya aku yang membuat mereka bahagia dan membuat mereka tertawa. Ya, aku seharusnya berpikir lebih dewasa. Ayah, ibu, maafkan aku.

Dan detik itu juga kawan, aku tidak berpikir bahwa aku iri padamu, tapi aku bangga karena aku punya orangtua terbaik di dunia.

Logika Vs Mitos

MITOS 1
"Anak Gadis jangan melamun didepan pintu .!nanti jauh jodoh ..
LOGIKA :
jangan ngelamun didepan pintu ganggu orang lewat tau .!

MITOS 2
"Jangan buka payung dalem rumah nanti ada setan yang kamu payungin"
LOGIKA
ngapain juga buka payung dalem rumah Orang Gila kali cinn...

MITOS 3
"jangan potong kuku malem-malem ntar didatengin "hantu kuuku llo"
LOGIKA
maksudnya kalo potong kuku malem-malem kan ntar gk keliatan bisa kepotong yang lain (jari maksudnya)

MITOS 4
"jangan tidur magrib-magrib doain ortu cepet mati"
LOGIKA
gk di doain juga juga ntar mati sendiri #kurangajar

MITOS 5
"kalo ngerjain sesuatu itu harus bersih nanti suami mu jenggotan lo"
LOGIKA
kalo jenggotan ea tinggal di cukur ...
maksudnya itu ancaman bagi para gadis yang nyapu atau ngelakuin apaun yang masi ketinggalan sampah atau kotoranya ..biar mereka takut jadi dibilangin deh nanti suamii kalian jenggotan ..

Rabu, 26 September 2012

Cover Buku Antologi Cerpen Bertema “Cinta Bernilai Dakwah”

Jreenggg… Akhirnya kover buku ke-2 Antologi Cerpen Bertema “Cinta Bernilai Dakwah” selesai juga. Agak terlambat memang. Ada kendala teknis yang di luar kontrol Tim FAM. Tapi alhamdulillah, semua dapat diselesaikan dengan baik oleh FAM Publishing :)

Dan alhamdulillah, ternyata setelah melakukan pembacaan keseluruhan naskah dan mendiskusikan judul cerpen yang menarik dan “bernilai jual”, maka Tim FAM Indonesia menjatuhkan pilihan kepada cerpen saya yang berjudul “Untuk Sumarni dari Suparman” sebagai judul buku antologi ini, meskipun, tentu saja, judul-judul cerpen lainnya tak kalah menarik. 







Secara keseluruhan inilah judul-judul cerpen dan nama penulis yang dimuat dalam antologi FAM Indonesia ini:

1. Di Bawah Kaki Bapak (Yori Tanaka)
2. Pesan Cinta dari Korban Penggusuran (Yudha Hari Wardhana)
3. Kartini Masa Kini (Hannan Izzaturrofa)
4. Untuk Sumarni dari Suparman (M.R. Andrianus)
5. Akhir Cinta Gadis Novel (Marfuatus Zulvia Wilujeng)
6. Keputusan Seiring Waktu (Dwi Pratita Utami)
7. Seperti Bukan Aku (Rahmat Sahri Ramadani)
8. Selezat Cokelat Cappucino (Amanda Iza Raesita)
9. Manusia di Antara Kucing (Tomy M Saragih)
10. Garis yang Tak Sempurna untuk Sebuah Nama (Sri Yunianita)
11. Dilema Ramadhan (Desy Rohmawati)
12. Doa untuk Kekasih Suamiku (Mu’awanah)
13. Tanah Ini Dijual Seribu Meter Persegi (Siti Haryani Chasana)
14. Ekspedisi Cinta (Mawar Rovita Sari)
15. Balasan Indah Tiga Pucuk Surat (Anis Swidiastuti)
16. Saksi Salju Alpen (Rrahmania Zzahra)
17. Bercermin pada Lembaran Kertas (Tyas Widianingsih)
18. Cinta si Abua Amat (Firdaus)
19. Inilah Jalan Dakwahku (Adli Zuliansyah Putra)
20. Kamar untuk Ayah dan Bunda (Switz Rahayu)
21. Cinta Gila (Nenny Makmun)
22. Jilbab Biru Catherine (Rahimah Ib)
23. Aku Benci Adikku (Sherly Adra Pratiwi)
24. Air Mata Mbak Alia (Riezky Vieramadhani Poetry)
25. Buku Ini Jadi Saksinya (Darmawati)


Liat, kan? Nama saya ada di no urut 4. Hehe. Saya sangat bersyukur dan bangga atas karya tersebut. Apalagi ternyata sudah banyak yang memesan buku ini walaupun belum selesai cetak. Daya tarik mungkin tidak hanya ada di judul, namun juga ada di cover buku yang sangat apik dikemas oleh FAM Publishing. Karakter Sumarni yang saya buat pun diilustrasikan dengan sangat manis dan cantik pada cover tersebut. Semoga isi cerita 25 penulis di sini pun dapat mengobati rasa rindu para pembaca akan sebuah cerita cinta karya anak negeri, yang bukan sekadar cerita cinta monyet atau roman picisan, tapi cerita cinta yang lebih bermakna dan bernilai dakwah.


Info pemesanan buku di FAM Publishing, hubungi 0812 5982 1511 (Aliya Nurlela) atau kunjungi blog FAM Indonesia di www.famindonesia.blogspot.com. 
Jangan lupa dibuka dan dikomen cerpen saia: CAHAYA TERANG DI ATAS LANGIT KOTA BANDA ACEH, yang saia ikutkan dalam lomba fiksi fantasi 2012 (kastilfantasi.com). mulai bisa diakses tanggal 2 Juli 2012 ya :) mau baca? klik gambar (BADGE) di bawah ini. Selamat menikmati ^_^

Labels

Who Reads